MAJALAH
MAJALAH INTISARI EDISI 687
Merayakan patah hati. Seorang kawan meneliti hubungan antara lirik lagu dan suhu politik. Temuannya menarik, ada kecenderungan munculnya lagu-lagu bertema pengkhianatan atau perselingkuhan ketika suasana politik memanas.rnrnDahulu, patah hati kerap diekspresikan dengan kesedihan, kemuraman, keputusasaan, hingga berujung kematian. Itu tercermin dalam lirik lagu-lagu era 1970-an sampai awal milenium pada tahun-tahun belakangan. Belakangan ini, kita menyaksikan fenomena sosial baru tentang patah hati.rnrnBelakangan Didi Kempot dengan “Sobat Ambyar”- nya dan jargon “God Father of Broken Heart” mampu menyihir orang-orang yang patah hati untuk merayakan nelangsa dan nestapa hati mereka. Bagaimana mungkin lara dan nestapa berubah menjadi tawa gembira? Sejatinya, apa yang sesungguhnya terjadi di negeri ini? Patah hati memiliki sejarah yang sama tuanya dengan peradaban manusia. Patah hati melanda mulai dari anak, remaja, dewasa bahkan mereka yang sudah manula.rnrnDahulu, cinta dan patah hati itu perkara pribadi. Akan tetapi, kini cinta dan patah hati sudah memasuki perkara kebudayaan dan sosial. Kami menyajikan pembahasan patah hati dari berbagai ahli dari psikologi sampai kisah sastra Jawa Kuno.rnrnChu Pat Kai, seorang tokoh dalam kisah Sun Go Kong, kerap meratapi kisah cintanya. Ratapannya pun pernah populer, terutama bagi generasi 1990-an, “Sejak dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir.” Namun kini patah hati tak selalu berujung dengan meratapi nasib. “Patah hati adalah pilihan,” kata salah seorang kawan berkelakar, “Kalau kuat ya dinikmati, kalau ngga kuat ya mari ngopi bersama kami.” Kisah tragis pun bisa berakhir dengan manis.
| 24B1010 | 020.5 TIM m | My Library (RAK MAJALAH) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain