MAJALAH
MAJALAH INTISARI EDISI 682
Bukan sekedar berat badanrnrnSuatu sore, saya bercakapcakap dengan kawan lama melalui aplikasi pesan elektronik. Kebetulan, saat itu ia tengah bersantap. Lalu, ia mengirim kan foto makanan khas Negeri Paman Ho di hadapannya: semangkuk pho—mi beras yang direndam dengan kaldu sapi lalu disajikan dengan sayuran mentah.rnrnNamanya, Yudi Andreas, kar yawan perusahaan otomotif terkemuka. Dua tahun lalu ia mulai berjuang menurunkan berat badan dengan metode clean eating diet—meminimumkan santapan olahan, porsi sayur dan buah yang lebih banyak. Selama setahun lebih, berat badannya turun enam kilogram.rnrnSetelah ditambah kardio, ia berhasil menurunkan lima kilogram lagi. Saya bertanya kepadanya, mengapa penurunan berat badannya begitu lama. Bukankah, saat ini beragam diet terbukti cepat menurunkan berat badan? “Karena aku tidak suka konsep diet yang menyiksa,” jawabnya.rnrn“Diet jangka pendek itu menyiksa diri, sedangkan yang dibutuhkan diet itu adalah perubahan lifestyle.” Target dietnya bukanlah soal berat badan, melainkan tujuan sehat. Namun, tercapainya berat badan ideal bolehlah sebagai bonusnya.rnrnBanyak yang salah kaprah bahwa diet itu perkara menurunkan atau menaikkan berat badan, padahal diet adalah perkara pola makan. Jadi, menurutnya, benar apa yang kerap dikata orang bahwa “kebahagiaan itu berawal dari usus” bukan dari berat badan. Pada edisi ini kami menyajikan kisah pengalaman empat selebritas yang memerangi obesitas demi meraih sehat.rnrnGaya hidup dan pola makan pun harus berubah.Hasilnya, obesitas minggat, tubuh sehat, penampilan mereka pun kian terangkat. Simak bagaimana upaya mereka mengubah gaya hidup. “Mengubah gaya hidup itu tidak semudah yang dibayangkan,” demikian kata kawan saya tadi. “Dan, intinya, diet tanpa perubahan gaya hidup yang langgeng adalah kesia-siaan.
| 24B1007 | 020.5 TIM s | My Library (RAK MAJALAH) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain